Wed, 12 Mar 2025
Menemukan 'Kape': Bagaimana dokumentasi bahasa melestarikan bahasa yang terancam punah

Shiyue Wu, anggota tim peneliti Francesco Perono Cacciafoco di Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), yang saat ini sedang mengembangkan kerja lapangan intensif di Pulau Alor untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa yang terancam punah, menemukan dan pertama kali mendokumentasikan Kape selama kerja lapangan Dokumentasi Bahasa pada bulan Agustus 2024 dan karena itu berkontribusi secara aktif terhadap penelitian ini.

Pada 2025, lebih dari 7.000 bahasa digunakan di seluruh dunia. Namun, hanya sekitar setengahnya yang terdokumentasi dengan baik, sisanya terancam punah.

Globalisasi telah mendorong bahasa-bahasa seperti Inggris dan Mandarin menjadi bahasa utama yang kini mendominasi dalam komunikasi global.

Orang tua masa kini juga cenderung mendorong anak-anak mereka mempelajari bahasa yang lebih luas digunakan. Sementara itu, bahasa asli, seperti Copainala Zoque di Meksiko dan Northern Ndebele di Zimbabwe, tidak diajarkan secara konsisten di sekolah.

Adapun masyarakat adat, umumnya tidak menggunakan tulisan dalam berkomunikasi selama berabad-abad. Akibatnya, bahasa mereka tidak memiliki catatan tertulis kuno yang dapat diwariskan. Ini menyebabkan kepunahan bertahap sulit dihindari.

Untuk mencegah hal tersebut, para ahli bahasa lapangan-atau dokumentaris bahasa-berupaya memastikan bahwa generasi mendatang memiliki akses terhadap warisan budaya mereka. Upaya mereka berhasil mengungkap kosakata dan struktur bahasa serta cerita dan tradisi yang terkandung di dalamnya.

Kami telah menghabiskan lebih dari 13 tahun mendokumentasikan bahasa Papua yang terancam punah di Indonesia bagian Tenggara dan Timur, khususnya di Kepulauan Alor-Pantar, dekat Timor, dan Kepulauan Maluku. Salah satu penemuan penting dan terkini kami adalah Kape-bahasa yang sebelumnya tidak terdokumentasi dan terabaikan-yang dituturkan oleh masyarakat pesisir kecil di Alor Tengah-Utara.

Penemuan ini tidak hanya penting untuk memetakan konteks linguistik di pulau-pulau tersebut, tetapi juga menyoroti urgensi melestarikan bahasa yang terancam punah dengan menggunakan metode dokumentasi bahasa.

Pada Agustus 2024, saat bekerja dengan konsultan bahasa Abui kami, asisten riset saya di Xi'an Jiaotong-Liverpool University, Shiyue Wu, menemukan bahasa Papua dari Alor yang sebelumnya diabaikan dan mungkin tidak terdokumentasi, yaitu 'Kape'.

Saat itu, ia tengah mengumpulkan informasi tentang nama dan lokasi altar ritual yang dikenal sebagai 'maasang' di wilayah Abui, dengan bantuan dari konsultan utama kami dan beberapa penutur asli. Di Alor Tengah, setiap desa memiliki 'maasang'.

Dalam diskusi tentang varian nama altar dalam berbagai bahasa Alor dan dialek Abui, beberapa penutur menyebutkan istilah 'maasang' ('mata') dalam bahasa Kape-bahasa yang sebelumnya tidak tercatat dan diabaikan dalam dokumentasi linguistik.

'Kape' sendiri berarti 'tali', yang melambangkan bagaimana bahasa ini menghubungkan para penuturnya di seluruh pulau, dari pegunungan hingga pesisir laut. Secara geografis dan linguistik, bahasa ini diasosiasikan dengan Kabola di timur dan Abui dan Kamang di Alor Tengah.

Pada tahap ini, belum jelas apakah Kape merupakan bahasa tersendiri atau dialek Kamang. Meski sebagian besar leksikon dasar Kape (kumpulan kata dalam satu bahasa) memiliki kognat (kata-kata yang berhubungan antarbahasa) dengan Kamang, bahasa Kape dituturkan sebagai bahasa utama (asli) oleh seluruh kelompok etnis Kape di Alor. Para penutur menganggap bahasa itu sebagai identitas tersendiri.

Kape juga terhubung dengan Suboo, Tiyei, dan Adang, bahasa Papua lainnya dari Pulau Alor. Para penuturnya, yang dikenal sebagai 'Kafel' dalam bahasa Abui, menguasai banyak bahasa, termasuk fasih dalam bahasa Kape, Kamang, Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Alor, dan terkadang Abui.

Sejauh ini, belum ada catatan sejarah tentang bahasa Kape, meskipun penelitian arsip mungkin dapat mengungkap lebih banyak tentang asal-usulnya. Berdasarkan tipologi dan karakteristik leksikalnya, bahasa Kape tampak setua bahasa lain yang digunakan di Alor. Sayangnya, seperti banyak bahasa Papua lainnya, bahasa ini terancam punah dan memerlukan dokumentasi mendesak untuk melestarikan warisannya.

Dokumentasi bahasa bertujuan untuk merekonstruksi sejarah masyarakat adat yang tidak tertulis dan menjamin masa depan budaya dan bahasa mereka. Ini dicapai dengan melestarikan bahasa yang terancam punah, jarang didokumentasikan, atau sama sekali tidak terdokumentasi di daerah terpencil dan terbelakang.

Sumber eksternal, seperti buku harian para misionaris dan dokumentasi yang dibuat oleh para penjajah, dapat membantu merekonstruksi beberapa peristiwa sejarah. Namun, sumber-sumber tersebut tidak cukup untuk menyediakan data linguistik yang dapat diandalkan, karena penulisnya bukan ahli bahasa.

Kami mendokumentasikan bahasa-bahasa yang terancam punah, mulai dari leksikon hingga tata bahasanya. Kami juga mengeksplorasi tradisi kuno dan kearifan leluhur penutur asli yang bekerja sama dengan kami.

Hasilnya, kami telah berkontribusi dalam pendokumentasian beberapa bahasa Papua dari Pulau Alor, khususnya Abui, Kula, dan Sawila. Bahasa-bahasa ini dituturkan di antara komunitas-komunitas kecil masyarakat adat yang terkadang tersebar dan termasuk dalam kelompok etnis yang berbeda tetapi terkait.

Mereka berkomunikasi satu sama lain sebagian besar dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu Alor. Ini karena bahasa daerah mereka hampir tidak pernah diajarkan di sekolah dan jarang digunakan di luar kelompok mereka.

Seiring berjalannya waktu, selain mendokumentasikan leksikon dan tata bahasa mereka, kami berupaya merekonstruksi nama-tempat dan nama lanskap, tradisi lisan, fondasi ... mitos, legenda leluhur dan nama tanaman dan pohon yang mereka gunakan.

Kami juga mengeksplorasi praktik medis tradisional dan etnobotani lokal, beserta budaya musik dan sistem bilangan mereka.

Menjaga Kape tidak hanya relevan secara linguistik. Pelestarian dan dokumentasinya tidak hanya tentang membuktikan keberadaannya-tetapi juga berkontribusi dalam menghidupkan kembali bahasanya, menjaganya tetap hidup, dan memungkinkan masyarakat setempat menemukan kembali sejarah, pengetahuan, serta tradisinya untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.

Perjalanan ini baru saja dimulai, tetapi kami-dengan kolaborasi yang sangat diperlukan dari konsultan lokal dan penutur asli-siap untuk menuntaskannya hingga selesai.

This article was originally published in English

More Uzbekistan News

Access More

Sign up for Uzbekistan News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!