Penggunaan earphone, headphone, dan headset berlebihan bisa ganggu pendengaran dan pengaruhi kesehatan mental
Riset mengungkap mayoritas pengguna perangkat audio portabel berusia 19-29 tahun
Membatasi penggunaan perangkat audio portabel bisa cegah dampak negatifnya terhadap kesehatan
Kamu mungkin sering mendengarkan musik, bermain gim, ataupun menonton film menggunakan perangkat audio portabel (earphone, headphone, dan headset). Aktivitas ini memang menyenangkan karena kamu bisa mendengarkan sensasi suara secara lebih jernih sekaligus menghibur diri sembari melakukan kegiatan lainnya.
Sayangnya, kebiasaan ini justru berisiko menyebabkan gangguan pendengaran. Dalam jangka panjang, dampaknya bahkan bisa meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, stroke, hingga depresi.
Penelitian di Kanada yang melibatkan 6.571 peserta, menunjukkan bahwa orang dewasa muda berusia 19-29 tahun merupakan kelompok yang paling sering menggunakan perangkat audio portabel. Rata-rata seseorang menggunakan headphone sekitar empat jam per hari.
Alasan seseorang menggunakan perangkat audio portabel pun beragam, mulai dari menghibur diri sembari beraktivitas (seperti berolahraga atau membersihkan rumah), agar tidak menggangu orang lain, hingga meningkatkan fokus saat meeting atau belajar daring. Ada juga yang menggunakannya demi merasakan sensasi suara yang lebih jernih saat mendengar musik, menonton film, atau bermain gim.
Namun, terlalu sering menggunakan perangkat audio portabel bisa menimbulkan bising rekreasional, yaitu kebisingan dari aktivitas hiburan yang berisiko mengganggu kesehatan fisik dan mental.
Berikut deretan gangguan kesehatan akibat kebiasaan mendengarkan perangkat audio portabel yang perlu kamu waspadai:
1. Gangguan pendengaran
Perangkat audio portabel bisa mengeluarkan suara dengan intensitas berkisar antara 80-115 desibel (dB). Intensitas suara setinggi ini hanya boleh didengar selama 15 sampai 30 menit saja, tapi kenyataannya banyak yang mendengarkan perangkat audio portabel selama berjam-jam.
Paparan suara keras dalam waktu lama sangat berbahaya karena bisa merusak koklea. Sel-sel rambut halus di telinga bagian dalam ini bertugas mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang diteruskan ke otak sehingga kita bisa mendengarkan suara.
Kerusakan koklea menimbulkan gangguan pendengaran (pekak). Dampaknya mungkin baru dirasakan sekitar 10-20 tahun mendatang, sehingga pekak umumnya terjadi di usia 40-50 tahun.
Gejala awalnya sering kali berupa telinga berdenging (tinnitus) dan kesulitan mendengar di kondisi ramai. Bahkan jika kerusakannya parah (koklea tidak sanggup lagi beregenerasi), kamu berisiko mengalami kehilangan pendengaran permanen.
2. Telinga berdenging
Kerusakan koklea dapat menyebabkan telinga berdenging yang bisa berlangsung sebentar maupun dalam waktu lama. Gangguan ini membuat pengidapnya mendengar suara dengung, desis, detak, atau gemuruh di dalam kepala.
Gaji tak kunjung naik. Promosi mesti pindah perusahaan. Skripsi belum juga ACC. Diet ketat, berat badan tak turun juga. Lingkungan kerja toxic, bosnya narsistik. Gaji bulan ini mesti dibagi untuk orang tua dan anak. Mau sustainable living, ongkosnya mahal. Notifikasi kantor berdenting hingga tengah malam. Generasi Zilenials hidup di tengah disrupsi teknologi, persaingan ketat, dan kerusakan lingkungan.
Simak 'Lika Liku Zilenial' mengupas tuntas permasalahanmu berdasar riset dan saran pakar.
3. Gangguan kecemasan dan depresi
Remaja yang menggunakan earphone lebih dari satu jam per hari lebih berisiko mengalami telinga berdenging. Kondisi ini bisa mengurangi kualitas hidup pengidapnya hingga berujung pada gangguan kecemasan dan depresi.
4. Vertigo
Paparan suara keras juga bisa menekan dan mengganggu keseimbangan telinga bagian dalam yang memicu gejala vertigo berupa sensasi pusing seolah sekeliling berputar.
5. Penyakit jantung
Meski belum ada riset yang membuktikan dampak perangkat audio portabel terhadap jantung, penelitian Massachusetts General Hospital menunjukkan bahwa suara bising dengan frekuensi tinggi bisa meningkatkan risiko peradangan dan penyumbatan pembuluh darah jantung. Kondisi ini bisa berujung pada gangguan fungsi jantung.
6. Stroke
Studi tahun 2022 menunjukkan kaitan antara paparan kebisingan berfrekuensi tinggi dengan peningkatan risiko stroke iskemik. Diduga hal ini terkait dengan efek tekanan darah tinggi dan respons stres yang memicu peradangan dan penyumbatan pembuluh darah otak penyebab stroke iskemik.
Meski begitu, kebisingan intensitas tinggi yang banyak dikaji bersumber dari polusi suara lalu lintas.
Guna menghindari gangguan pendengaran dan risiko kesehatan lainnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan batas suara yang boleh didengarkan berkisar 70 dB selama 24 jam atau 85 dB selama 1 jam. Lakukan hal di bawah ini agar kesehatan kamu terjaga saat menggunakan perangkat audio portabel:
Gangguan akibat kebisingan sering kali diabaikan, padahal dampaknya bisa serius. Dengan menerapkan cara di atas, kamu tetap bisa menikmati musik dan hiburan lainnya tanpa membahayakan kesehatan.




















