Tidak ada 'job fair' ideal untuk kondisi ketenagakerjaan saat ini

Indonesia mengalami kondisi oversupply tenaga kerja yang cukup parah.

Setiap job fair pasti membludak dihadiri pencari kerja.

Pembenahan sektor ketenagakerjaan dan pembangunan SDM dari hulu-hilir perlu dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten.

Pemandangan ribuan pencari kerja yang memadati arena job fair dan membawa tumpukan lamaran sambil berharap mendapatkan pekerjaan, bukanlah hal asing di Indonesia. Mungkin banyak di antara kita juga yang pernah mengalaminya.

Namun, ketika kondisi menjadi tidak kondusif, bahkan sampai memicu tindak kekerasan, ini patut menjadi perhatian serius para pemangku kepentingan.

Belum lama ini, jagat media sosial ramai oleh kericuhan saat pelaksanaan job fair di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Dalam video yang beredar, tampak pencari kerja membludak saling dorong, bahkan saling baku hantam. Situasi pun menjadi kacau.

Seolah melempar tanggung jawab, Kementerian Ketenagakerjaan menyoroti kesiapan pihak penyelenggara atas permasalahan ini. Padahal jika kita cermati lebih dalam, ini bukan sekadar persoalan teknis.

Read more: Edaran menteri takkan jamin pekerja 30 tahun+ dapat kerja

Membludaknya pencari kerja menunjukkan bahwa jumlah penganggur jauh melebihi lowongan yang tersedia. Selain itu, kondisi ini juga mengindikasikan adanya fenomena job mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara kualifikasi pencari kerja dengan kebutuhan industri.

Job fair kerap dianggap sebagai solusi cepat untuk mengatasi pengangguran. Padahal, tanpa pendekatan yang menyeluruh, acara ini hanya akan menjadi agenda rutin yang mengundang keramaian, tapi tidak menyentuh akar permasalahan.

Hal yang dibutuhkan justru adalah peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan keterampilan yang relevan, serta penciptaan lapangan kerja baru.

Data dari berbagai penyelenggaraan job fair hampir dipastikan semuanya dibanjiri pelamar. Job fair yang diadakan di Kabupaten Bekasi misalnya, hanya menawarkan 3 ribu lowongan pekerjaan, tapi dihadiri 25 ribu orang pencari kerja.

Angka itu pun bisa jadi belum mencerminkan keseluruhan jumlah pencari kerja, karena bisa jadi masih banyak yang tidak bisa hadir karena berbagai keterbatasan.

Contoh lainnya, Naker Fest 2024 yang diadakan oleh Kemnaker tahun lalu. Acara ini menyediakan 110 ribu lowongan kerja dari 110 perusahaan. Jumlah lowongan yang ditawarkan memang besar, namun belum tentu ada kesesuaian antara kualifikasi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.

Meski pemerintah dan pihak swasta rutin mengadakan job fair setiap tahun, tingkat pengangguran masih tinggi.

Di Jakarta, misalnya, meskipun job fair diadakan setiap bulan di 44 kecamatan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2024 masih di angka 6,21%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 4,91%.

Read more: Tren #KaburAjaDulu: Peringatan bagi pemerintah sebelum kehilangan generasi berkualitas

Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan job fair belum efektif menekan angka pengangguran. Faktor-faktor mendasar seperti ketidaksesuaian keahlian, kurangnya informasi, dan keterbatasan akses masih menjadi penghalang utama bagi pencari kerja untuk mendapatkan pekerjaan.

Penelitian menunjukkan tingginya tingkat job mismatch disebabkan oleh lembaga pendidikan yang belum selaras dengan kebutuhan pasar kerja. Akibatnya, banyak lulusan yang dihasilkan tidak terserap oleh industri. Ini juga menjadi indikator gagalnya pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja.

Pemerintah perlu mengakui realitas ini dan mengambil langkah-langkah nyata untuk mengatasi akar permasalahan. Pembenahan bisa dilakukan melalui peningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan, penciptaan lapangan kerja baru yang berkualitas, serta memastikan kesesuaian antara kualifikasi tenaga kerja dengan kebutuhan industri.

Untuk jangka pendek, pemerintah perlu melakukan revitalisasi dan reorientasi job fair yang lebih tematik berdasarkan sektor industri. Hal ini dapat mencegah membludaknya para pencari kerja karena lowongan yang tersedia sudah lebih spesifik dibandingkan job fair yang lebih umum.

Kemudian pemerintah dapat melakukan survei cepat untuk memetakan keterampilan pencari kerja dan kebutuhan perusahaan lokal. Data ini nantinya dapat digunakan untuk mencocokkan pelamar kerja dan lowongan yang tersedia secara akurat saat job fair.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah edukasi kepada masyarakat khususnya pencari kerja mengenai tren pekerjaan masa kini, termasuk kebutuhan keterampilan digital dan vokasional melalui media sosial dan seminar online. Hal ini dapat membantu para pencari kerja untuk menyiapkan dirinya agar dapat terserap dengan baik di dunia kerja.

Untuk jangka panjang, penguatan link and match dunia pendidikan dan industri adalah keniscayaan. Penciptaan kemitraaan formal antara sekolah/kampus dan perusahaan melalui penempatan guru tamu dari industri, sertifikasi kompetensi yang diakui dunia kerja, dan skema magang wajib bersertifikat ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhi. Kemudian, perlu ada insentif bagi industri yang mau menyerap tenaga kerja lulusan baru.

Pemerintah dapat memberikan insentif pajak atau subsidi pelatihan bagi perusahaan yang memperkerjakan lulusan baru dan melatih mereka secara on-the-job. Selain itu, pengembangan ekosistem lifelong learning merupakan strategi jangka panjang yang perlu dipertimbangkan.

Perkembangan teknologi mengubah lanskap dunia pekerjaan begitu cepat. Dinamika lapangan pekerjaan tidak bisa ditebak seiring kemajuan teknologi dan peradaban.

Oleh karena itu, lifelong learning adalah salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Pengembangan metode ini dapat dilakukan dengan penciptaan platform pelatihan daring yang terjangkau dan sertifikasi modular (sistem sertifikasi keterampilan yang dibagi ke dalam unit-unit yang lebih kecil dan terpisah) yang fleksibel untuk berbagai usia kerja.

Read more: Di balik kategori "miskin" BPS: Standar bertahan hidup, bukan taraf kesejahteraan

Kerja sama pihak terkait adalah kunci penting dalam mengatasi fenomena ini. Tanpa pembenahan peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional yang berkelanjutan, sampai kapan pun job fair takkan efektif mengurangi pengangguran secara signifikan.

More Uzbekistan News

Access More

Sign up for Uzbekistan News

a daily newsletter full of things to discuss over drinks.and the great thing is that it's on the house!