Share article
Print article
Mal tetap ramai tapi yang belanja semakin sedikit.
Fungsi mal sudah berubah menjadi tempat bersosialisasi.
Perlu langkah strategis yang tepat sasaran bagi pengelola mal untuk bisa meningkatkan dorongan belanja pengunjung.
Munculnya istilah "Rojali" (Rombongan Jarang Beli) dan "Rohana" (Rombongan Hanya Nanya) mempunyai banyak aspek yang layak kita bahas.
Selain disrupsi bisnis dan lesunya perekonomian, kemunculan dua sejoli ini menunjukkan adanya kebutuhan sosial dan psikologi masyarakat dengan memanfaatkan mal untuk peningkatan kebahagiaan.
Read more: Maraknya 'Rojali' hingga 'Roh halus': Tren sesaat atau perlambatan ritel?
Rojali dan Rohana adalah cermin dari perubahan gaya hidup, tekanan ekonomi, dan kebutuhan akan ruang interaksi bagi masyarakat Indonesia. Sementara mal sedari dulu memang identik sebagai penghubung aktivitas konsumsi.
Namun, kondisi tersebut kini berubah.
Kehadiran mal tak hanya memenuhi kebutuhan berbelanja, tetapi juga kebersamaan, kesehatan fisik dan mental, serta solidaritas sosial yang bisa meningkatkan kebahagian.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) melaporkan bahwa meskipun tingkat kunjungan ke mal meningkat pascapandemi, nilai transaksi per kunjungan justru stagnan atau menurun. Hanya ritel sektor makanan dan minuman yang stabil.
Artinya, traffic tinggi tidak lagi menjadi jaminan keberlanjutan bisnis ritel. Para penyewa toko justru menghadapi tekanan ganda: biaya operasional tetap tinggi, sementara pembeli aktif semakin berkurang.
Ini diperparah oleh fenomena showrooming: konsumen datang ke toko fisik untuk mencoba produk lalu membelinya secara daring dengan harga lebih murah.
Dari sudut pandang masyarakat, mal tetap jadi tempat menarik untuk dikunjungi. Namun, karena daya beli yang loyo, mereka ke mal sebatas jalan-jalan santai, melihat-lihat, berbincang dengan staf toko tanpa belanja.
Konsep mal sebagai ruang sosial sesungguhnya bukan hal baru. Sosiolog Amerika Serikat (AS) Ray Oldenburg memperkenalkan gagasan third place-ruang ketiga di luar rumah (first place) dan kantor (second place), tempat orang bisa membangun koneksi sosial secara informal.
Di kota-kota besar yang kekurangan taman kota, perpustakaan publik, atau pusat komunitas, mal mengisi kekosongan ini. Mal memiliki atribut yang sangat dibutuhkan: tempat yang aman, bersih, ber-AC, bebas polusi, dan dapat diakses kapan saja, tanpa biaya masuk.
Penelitian di AS tahun 2022 dan berbagai negara di Eropa, seperti Swedia dan Norwegia, pada 2023 menguatkan hal ini. Mal bukan hanya tempat hang out, tetapi juga berperan sebagai lanskap terapeutik-ruang yang memberikan efek penyembuhan emosional maupun fisik.
Window shopping (hanya melihat-lihat barang di toko atau etalase) dan berjalan santai di mal dapat memperbaiki suasana hati, memperkuat keterikatan tempat (place attachment), serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas urban.
Tekanan terhadap ritel fisik juga dipicu oleh perubahan struktur ekonomi yang lebih luas. Digitalisasi perdagangan membuat kompetisi lintas platform semakin tajam. E-commerce dengan subsidi harga dan promosi besar-besaran menciptakan distorsi harga yang sulit ditandingi oleh toko fisik.
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Juni 2025 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun ke level 117,8, terendah dalam tiga tahun terakhir sejak berada di level 117,2 pada September 2022.
Selain IKK melemah, tekanan pada dompet masyarakat juga tercermin dari inflasi inti yang terus merayap, sedangkan upah riil cenderung stagnan. BPS melaporkan bahwa tingkat inflasi tahunan mencapai 2,37% pada Juli 2025, meningkat 1,87% dari bulan sebelumnya.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2025 juga melambat ke 4,87%-terendah sejak pertengahan 2021-dengan lesunya konsumsi rumah tangga sebagai penyebab utama.
Meski demikian, data IKK Juni 2025 yang masih berada di zona optimistis (IKK ditetapkan 100 sebagai tolak ukur jadi jika di atas 100 menunjukkan konsumen lebih optimis dari tolak ukur dan cenderung akan meningkatkan pengeluaran mereka yang berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi) menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi belum sepenuhnya hilang.
Artinya, fenomena Rojali dan Rohana tidak serta-merta mencerminkan pesimisme, tetapi menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang lebih selektif dalam memilih waktu, tempat, dan jenis belanja.
Rojali dan Rohana tidak selalu membawa indikasi negatif. Pelaku usaha perlu membaca keduanya sebagai sinyal untuk beradaptasi. Beberapa mal telah melakukan transformasi fundamental: dari pusat perbelanjaan menjadi pusat komunitas.
Sebagai contoh, Mal Sarinah yang memfokuskan pada konsep komunitas menjadikannya tempat berkumpul dan ruang berekspresi anak muda, komunitas, dan pelaku industri kreatif.
Contoh lain adalah Plaza Indonesia yang mengusung konsep one-stop place. Artinya, pengunjung tidak hanya bisa berbelanja tetapi juga mendapatkan experience melalui interaksi, kolaborasi, dan hiburan yang beragam.
Langkah konkret seperti penataan ulang komposisi penyewa dengan memberi ruang lebih besar untuk hiburan interaktif, serta layanan nonritel seperti co-working space, klinik, perpustakaan mini, atau ruang seni. Semuanya dapat membuat pengunjung merasa terhubung secara sosial.
Selain itu, mal bisa berperan aktif sebagai penghubung komunitas dengan menyelenggarakan konser lokal, lokakarya, pameran, dan sesi temu wicara yang tak bisa direplikasi secara digital.
Model ini membuka peluang baru: mal dapat menjadi platform bagi pelaku ekonomi kreatif lokal dari seniman hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjangkau publik luas.
Read more: 'Degrowth': Melawan industrialisasi dan konsumsi berlebihan demi masa depan yang berkelanjutan
Di sinilah mal bertransformasi menjadi ekosistem ekonomi sosial yang hidup, inklusif, dan berkelanjutan. Pelaku kreatif mendapatkan akses pasar, dan mal mendapatkan konten yang unik untuk mendorong pengunjung kembali lagi.
Toko fisik tak bisa lagi berdiri sendiri sebagai tempat transaksi, tapi harus menjadi simpul strategis dalam jaringan omnichannel. Teknologi seperti pengecekan stok real-time, pemesanan langsung di tempat, hingga promosi personal melalui aplikasi atau wi-fi publik, memungkinkan pengunjung tetap terhubung dengan ekosistem digital tanpa kehilangan pengalaman fisiknya.
Sejumlah ritel bahkan mengubah toko atau mal menjadi panggung live selling, menghadirkan pengalaman belanja yang bisa disaksikan audiens digital secara real-time.
Namun, ruang bersama yang digunakan publik juga memerlukan tanggung jawab kolektif. Jika mal semakin berfungsi sebagai ruang sosial, maka pengunjung juga perlu menjaganya.
Mulai dari kesadaran untuk bersikap tertib, sopan terhadap staf toko, menjaga kebersihan, hingga memperlakukan barang dagangan dengan semestinya.



















